Share on Pinterest
More share buttons

Kenali 10 Tokoh Pahlawan Daerah Yang Menjadi Nama Jalan di Kota Bogor

Sudah lazim kiranya kita menghargai jasa para pahlawan dan tokoh yang membesarkan nama bangsa in. Tak cuma pahlawan nasional yang namanya kerap kita temukan sebagai nama jalan yang populer, nama pahlawan daerah pun banyak dijadikan nama jalan oleh pemerintah.
Nah sambil liburan di bogor, kamu pasti kenal dengan nama-nama jalan berikut ini ketika berkunjung. Tapi mungkin nggak kena, siapa sih itu? Saatnya kamu mengenal para tokoh ini melalui tulisan singkat ini. Yuk!

(1) Jalan M.A. Salmun

M.A. Salmun atau lengkapnya Mas Ace Salmun Raksadikaria adalah pujangga dan sastrawan sunda yang berasal dari Rangkasbitung. Beliau lahir pada tanggal 23 April 1903 dan wafat pada 10 Februari 1972 di Bogor. Sebagai sastrawan, MA Salmun telah melahirkan karya-karya besar sastra utamanya berbahasa Sunda.

Karya-karya beliau diterbitkan oleh Volksalmanak Soenda, Majalah Parahiangan serta Balai Pustaka sejak 1920-an berbentuk guguritan (122 judul), wawacan (6 judul), sajak (25 judul), cerita pendek (103 judul), roman (7 judul), anekdot (26 judul), drama dangding dan gending karesmen (5 judul), bahasan (5 judul), bahkan hingga pengetahuan bacaan umum (6 judul) dan buku pelajaran (6 judul).

Bogor Heritage mencatat 480 karya sastra MA Salmun, baik dalam bahasa Sunda maupun bahasa Indonesia antara tahun 1929 hingga tahun 1971, setahun sebelum beliau meninggal pun sempat menulis buku dengan kondisi mata sudah 80% buta.

Legenda Ciung Wanara (1939) mungkin cerita yang masih sering kita dengar hingga hari ini, juga roman “Masa Bergolak (1968), Lenggang Kancana, berbahasa Sunda yang kemudian disadur ke bahasa Melayu-Indonesia oleh sastrawan Armijn Pane pada tahun 1934 dan kumpulan peribahasa sunda “Paribasa Sunda” tahun 1971

Salah Satu Buku MA Salmun yang diterbitkan Balai Pustaka tahun 1951

Salah Satu Buku MA Salmun yang diterbitkan Balai Pustaka tahun 1951 sumber :  tokohitambackchamber dot blogspot dot com

(2) Jalan KH Abdullah bin Nuh

KH Abdullah bin Nuh, adalah ulama, kyai kharismatik asal Cianjur, pendiri Pesantren al-Ghozali Bogor. Beliau ulama Jawa Barat yang terkenal produktif dan memiliki visi pendidikan Islam yang tinggi. Panggilan kemiliteran pun beliau lakoni dengan masuk Pembela Tanah Air (PETA) ketika Jepang mengalahkan Belanda. Ketika terjadi konflik, beliau turut berjuang memberontak dan ikut hijrah ke Yogyakarta menghindari penangkapan dan melanjutkan perjuangan. Di Yogyakarta, beliau turut mendirikan Universitas Islam Indonesia (UII).

Lahir di Cianjur, 30 Juni 1905 dan Wafat di Bogor, 26 Oktober 1987, KH Abdullah bin Nuh berguru hingga ke Kairo, dan menulis banyak buku baik dalam bahasa Arab maupun Indonesia. Kamus Arab-Indonesia pun pernah beliau tulis bersama Oemar Bakri. Sedangkan karya monumentalnya misalnya al-Alam al-Islami (Dunia Islam), terjemahan dari kitab Imam al-Ghazali adalah Minhaj al-Abidin (Jalan Bagi Ahli Ibadah), Al-Munqiz Min al-Dalal (Pembebas dari Kesesatan), dan al-Mustafa li ManLahu Ilm al-Ushul (Penjernihan bagi Orang yang Memiliki Pengetahuan Ushul).

Juga dan selaksa karya berbahasa Indonesia mengenai Zakat Modern, Keutamaan Keluarga Rasulullah SAW, dan Sejarah Islam di Jawa Barat Hingga Zaman Keemasan Banten serta sebuah buku berbahasa Sunda, Lenyepaneun (Bahan Telaah Mendalam).

foto : nu[dot]or[dot]id

Wajar apabila tokoh Jawa Barat yang besar di Cianjur dan Bogor ini menjadi salah satu nama jalan utama di Bogor, yaitu ruas jalan setelah KH Sholeh Iskandar, di seputar “Taman Yasmin”.

(3) Jalan Raden Kan’an, (4) Jalan Raden Koyong, (5) Jalan Tumenggung Wiradireja dan (6) Jalan Pangeran Sogiri.

Empat nama jalan ini berdekatan karena kedudukan empat tokoh ini. Bahkan hingga sekarang, Pesantren As-Sogiri masih berdiri dan keturunan Pangeran Sogiri masih mengelola pesantren dan makam para pangeran ulama ini.

Pangeran Sogiri sendiri merupakan anak dari Sultan Ageng Tirtayasa asal Banten yang ke-lima. Walau beliau tak pernah menetap di Tanah Baru Bogor, namun Raden Koyong anak beliau menetap dan menjadi penguasa daerah ini dan membangun Pesantren Assogiri. Pangeran Sogiri memilih jalan Sufi dan menjadi ulama menyebarkan Islam di daerah Bogor. Walau demikian, beliau wafat dan dimakamkan di Jatinegara, Jakarta bersama anaknya Raden Koyong yang juga meninggalkan silsilah kerajaan tanpa tampuk kekuasaan sebagai pangeran dan putra mahkota dan memilih jalan sufistik.

 Raden Kan’an merupakan cucu dari Pangeran Sogiri. Anak dari Raden Koyong yang berkedudukan di Tanah Baru, Bogor dibawah pemerintahan Tumenggung Wiradireja di Tanah Baru dan Cimahpar. Nama beliau juga diabadikan di ruas jalan di Tanah Baru yang berganti nama menjadi Jalan Pangeran Sogiri. Konon, Raden Kan’an sangat sakti dan pernah mengalahkan Pendekar Cimande, Mbah Khair yang terkenal dengan ilmu hitamnya.

Sedangkan Tumenggung Wiradireja merupakan Penguasa Sukaraja, Bogor, ruas daerah yang berada di ujung Tanah Baru. Raden Kan’an dan saudaranya Raden Muhyiddin (Iyi) bergelar demang di bawah pemerintahan Tumenggung Wiradireja, sedangkan “dalem”nya adalah Aria Wiratanudatar (Dalem Cikundul). Makam bangsawan ulama sufi ini terletak di Tanah Baru juga, bersama Saudaranya Raden Iyi, di makamkan berdampingan di Astana Gede, Tanah Baru, Bogor Utara.

(6) Jalan KH Sholeh Iskandar

KH Sholeh Iskandar merupakan tokoh ulama Jawa Barat, khususnya Bogor yang juga seorang pejuang gerilyawan, Komandan Batalyon 0 Hizbullah, meliputi Jasinga dan Leuwiliang. Pangkat terakhirnya Mayor dan merupakan salah seorang ahli strategi gerilya di Jawa Barat pada masa perebutan Kemerdekaan.

Selepas kemerdekaan, beliau aktif di Partai Masyumi yang kemudian karena memiliki garis politik berbeda dengan Nasakom-nya Soekarno, beliau dan beberapa tokoh lain seperti Natsir dan KH Noer Ali dari Bekasi dijebloskan ke Penjara.

KH Soleh Iskandar (tengah) bersama M Natsir dan KH Noer Ali

KH Soleh Iskandar (tengah) bersama M Natsir dan KH Noer Ali

Keluar dari Penjara, beliau memilih berkiprah di bidnag sosial dan pendidikan. Tercatat, beliau mendirikan Pondok Pesantren Pertanian Darul Fallah di kawasan Cinangneng, Universitas Ibnu Khaldun tahun 1961 (Sekarang kampus megah-nya di Jalan Sholeh Iskandar itu sendiri), Rumah Sakit Islam Bogor tahun 1982 dn BPRS Amanah Umah tahun 1980-an.

(7) Jalan Kapten Muslihat

Kapten Tubagus Muslihat adalah pahlawan yang gugur di medan perang dalam memimpin anak buahnya, rakyat bogor melawan INGGRIS pada 6 Desember 1945 yang mengambilh alih Bogor dari Jepang.  Pertempuran terjadi karena Inggris tidak mau memberikan kekuasaan kepada rakyat Indonesia dna para pemuda yang menduduki beberapa lokasi strategis seperti Istana Bogor. Aksi heroik komandan Kompi IV Batalion II Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di bawah Jend Urip Sumoharjo ini melambangkan pemimpin yang memang maju di depan bersama anak buahnya.

patung kapten muslihat

foto : lovelybogor[dot]com

Patung beliau di Plaza Kapten Muslihat (Taman Topi) menunjuk ke arah depan merupakan representasi aksi heroik beliau memimpin penyerbuan. Serta bagaimana beliau ditarik dari pertempuran dalam keadaan terluka parah ke Panaragan, tidak jauh dari lokasi pertempuran dan juga alamat tempat tinggal beliau oleh PMI dan juga adiknya yang ikut bertempur, Gustaman. Setelah berwasiat untuk memberikan tabungannya, Rp 600 (uang jepang) untuk fakir miskin, beliau meninggal di hadapan dr Marzuki Mahdi yang membisikkan Allahu akbar sebanyak tiga kali.

(8). Jalan Mayor Oking

Mayor Oking Djaya Atmadja adalah tokoh sentral “lapangan” dalam penumpasan PKI Madiun, DI/TII juga ketika NICA Belanda agresi militer dan menghalau pasukan sekutu tersebut di Pelabuhan Ratu sehingga gagal masuk ke Sukabumi.

Karir cemerlang Mayor Oking sangat brilian, DI/TII yang menyerah di daerah pegunungan Jawa Barat dikawal oleh beliau masuk ke Bogor walaupun dengan kondisi tangan yang sudah diamputasi ketika tertembak dalam penumpasan PKI di Solo ketika pemberontakan 1948. Keadaan beliau yang parah waktu itu dikunjungi langsung dan dipeluk sahabat-sahabatnya, seperti Jenderal Sudirman, juga Gatot Subroto dan AH Nasution di Rumah Sakit Solo (waktu itu belum jenderal).

Dengan kondisi yang sakit, beliau masih berjuang bersama TNI memberantas banyak rongrongan terhadap NKRI, hingga wafatnya pada usia relatif muda, 45 tahun di tahun 1963 karena sakitnya.

mayor oking

mayor oking dan keluarga

Wajar kiranya, AH Nasution meminta Bupati Bogor maupun Bekasi untuk mengabadikan salah satu putra terbaik bangsa ini menjadi nama jalan, dan diabadikan sejak tahun 1972.

(9). Jalan Nyi Raja Permas dan (10). Jalan Dewi Sartika

Nyi Raja Permas lengkapnya Raden Ayu Raja Permas adalah ibu dari Raden Dewi Sartika, pahlawan nasional yang diabadikan sebagai di ruas Pasar Anyar, Taman Topi (Kapten Muslihat) hingga ke Jalan Sudirman-A Yani. Jalan Nyi Raja Permas merupakan Jalan yang kita kenal sebagai daerah “Pasar Anyar” Bogor dan jalan Dewi Sartika adalah ruas dari Pasar Anyar menuju Bogor Junction hingga lampu merah jalan Sudirman.

Dewi Sartika kelahiran Bandung., 4 Desember 1884 dan wafat di Tasikmalaya, 11 September 1947. Tokoh pendidikan yang memeroleh anugerah Pahlawan Nasional ini anak dari Raden Somanagara dan Raden Ayu Raja Permas yang kemudian dihormati masyarakat sebagai Nyi Raja (permas). Nyi Raja Permas sendiri tokoh pejuang yang menentang Penjajahan hingga akhirnya dibuang Belanda ke Ternate. Ayahnya juga meninggal, sehingga Dewi Sartika pun harus dititipkan ke pamannya, Patih Arya Cicalengka.

Kembali ke ibunya setelah remaja, Nyi Raja Permas, Dewi Sartika makin suka mengajar. Ibundanya, Nyi Raja Permas pun sangat mendukung. Dulu, di Cicalengka, dia termasuk anak sangat pintar. Umur sepuluh tahun bisa bahasa belanda dan yang menggemparkan, beliau juga mengajarkannya ke anak-anak pembantu.

Sakola Istri, didirikan Dewi Sartika dengan dukungan pamannya Bupati Martanegara dengan tabungan pribadi . Beruntung, dukungan suaminya Raden Kanduruan Agah Suriawinata juga diperoleh untuk mengembangkan sekolah ini. Sakola Istri ini merupakan Sekolah Perempuan PERTAMA di Hindia Belanda. Dibantu Nyi Oewid dan Ny Poerwa, sepupunya, mereka mengajar 20 orang murid perempuan pertama di Pendopo Kabupaten Bandung.

Pangkal Jalan Nyi Raja Permas, antara Taman Topi dan Stasiun. Ujung Jalan adalah Pasar Anyar dan Dewi Sartika.

Jalan Nyi Raja Permas Bogor

Jalan Nyi Raja Permas di depan pintu utama Stasiun Bogor yang sudah menjadi pedestrian walk yang indah. foto : visitbogor

54412 Total Views 6 Views Today
Kenali 10 Tokoh Pahlawan Daerah Yang Menjadi Nama Jalan di Kota Bogor
5 (100%) 1 vote
(Visited 20,553 times, 1 visits today)


About

managing editor-at-large ----- travel, tech, edu, lifestyle blogger at unggulcenter.org


'Kenali 10 Tokoh Pahlawan Daerah Yang Menjadi Nama Jalan di Kota Bogor' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 Hellobogor.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool