Share on Pinterest
More share buttons
Paralayang

Cara Lain Nikmati Kawasan Puncak Bogor, Tinggal Bersama Warga Desa

Sederhana aja judulnya ya. Sudah jelas intinya. Ide lain menelusuri Kawasan Puncak, Bogor, Selain apa yang kita bayangkan dengan segala kemewahan dan keindahan serta kesegaran khas kawasan dataran tinggi favorit ini. Puncak, sebuah destinasi wisata di bogor favorit karena keasrian dan kesegarannya serta lokasinya yang dekat dengan Jakarta.

Villa untuk habiskan weekend atau wisata kuliner makan sate, bakar jagung dan ayam serta menikmati view segar hijau dan kebun teh. Semua sudah terpikirkan bukan?

Bagaimana kalau agak lebih “dalam”. Bukan ekstrim loh tapi. Hanya mencari suasana berbeda sekaligus lebih dekat dengan masyarakat. Mendapatkan pengalaman berbeda pula.

Saya dan kawan-kawan pernah mendapat ide untuk ke Puncak itu ke masyarakat desa. Karena ternyata sodara-sodara, masyarakat puncak bukan semua kalangan berada yang mendapat penghidupan dari akses wisata. Ya, kalau lokasinya bersentuhan langsung dengan akses jalan raya puncak, maka mereka bisa hidup lebih layak. Itupun ngga semuanya, tetap jadi buruh. Karena pemilik restoran, pemilik lokasi wisata, semua bukan orang bogor, apalagi orang puncak. Orang luar. Karenanya terjadi apa yang disebut kebocoran ekonomi wilayah. Intinya sih, duitnya ngalir ke kantong orang luar bogor. So miskin ya tetap miskin.

Atas dasar pemikiran akademik diatas, kami memberanikan diri untuk mencari desa yang jauh dari akses jalan. Yang terisolir walaupun berada di daerah yang sepertinya sumber kemakmuran warga setempat.

Dusun Cibulao, sebuah dusun atau disebut juga Kampung di Desa Tugu Utara di kawasan Puncak. FYI, Desa ini adalah salah satu desa di kawasan puncak yang secara ekonomi tertinggal.  Lokasinya berada di daerah tertinggi di kawasan puncak. Dusun ini dihuni sekitar 100 KK yang sebagian besar buruh teh. Tak ada sekolah disini, jadi anak-anak hingga SMA harus berjalan puluhan kilo menuju sekolah, biasanya pagi bisa menumpang truk pekerja teh, sedangkan pulang, tentu bisa dibayangkan betapa mereka berjuang dalam mencari ilmu di bangku sekolah.

Cibulao Desa Tugu Utara

Cibulao berada di Desa Tugu Utara

Dengan bantuan beberapa sahabat, saya dan beberapa teman mendapatkan kontak salah seorang pengurus Kelompok Tani Hutan (KTH) di sana yang konsistem menanam pohon untuk mencegah longsor dan juga bersama kelompok tani bekerjasama membuat eko-wisata track sepeda gunung yang dapat menambah penghasilan mereka.

Selama ini, penduduk Cibulao menggantungkan hidup dengan bertani Teh sebagai buruh yang memetik, mengored (mengupas) untuk PT Ciliwung yang memiliki lahan disana. Pekerjaan ini dilakoni sejak ratusan tahun lampau di masa penjajahan kolonial hingga sekarang.

So, dengan itu kami punya kontak dan segera berkomunikasi dengan Mas Yono, si pengurus KTH. Sehingga akhirnya kami diijinkan menginap dirumahnya dengan imbal balik membelikan mereka makanan dan sembako serta uang untuk makan kami selama satu hari satu malam.

Pengalaman yang asyik segera di mulai.

Setelah mengobrol ngalor ngidul di hari pertama hingga malam hari (kami tiba sore). Kami makan dan tidur enak. Airnya dingin banget bro. Jadi saya memutuskan untuk tidak mandi malam itu. Esok pagi saja (dan tetap, dingin bangeeettt). Selain itu, kami juga mengagendakan melihat kebun teh dan juga track sepeda yang ada esok harinya. Oh ya, wajib ditulis nih, bahwa Makan malam yang disajikan enak banget, walau cuma ikan asin dan sambal serta lalapan. Saya aja nambah dua kali hehe. Beda banget rasanya makan di kampung loh. Rasanya nikmat sekali walau lauk seadanya.

Kampung Cibulao

Suasana kampung Cibulao. Lapangan tempat masyarakat berkumpul

Pagi, setelah suguhan kopi dan pisang goreng, disertai kicuan burung di pagi hari, kami berangkat trekking ke berbagai lokasi.

Menelusuri kebun teh yang asri dengan udara segar, hmm.. inilah suasana pagi ala pedesaan. Selain itu, kami juga ngobrol mengenai usaha teman-teman KTH mengubah kebiasaan masyarakat yang hanya menjadi buruh teh untuk meningkatkan perekonomian dengan mengelola track sepeda. Selain itu, juga untuk sadar lingkungan dengan berhenti membabat hutan dan malah menanam pohon-pohon dan menanam juga tanaman kopi.

Kebun Teh

Kebun teh yang hijau dan asri mengelilingi dusun ini

Kebun Teh

Trekking di jalanan yang naik turun bukit dan tebing, dengan ngos-ngosan kami sampai di trak sepeda. Lewat jalur kampung yang tidak ringan. Basah kuyup keringatan hehe. Mana menanjak pula. Bikin tambah keringetan. Namun harganya sesuai dengan barangnya. Terbayar dengan keindahan view Puncak dan hamparan kebuh teh di bawah. Saat kami tiba, kebetulan bukan Sabtu Minggu sehingga sedang tak ada pesepeda yang melintas jalur yang terkategori ekstrim ini.

Jalur Sepeda Gunung

Narsis di depan banner jalur sepeda gunung

Puncak Bogor

Terbayar sudah segala keringat menuju puncak! Udara segar, pemandangan indah, kabut yang menyelimuti di ujung sana

Track Sepeda Gunung

Salah satu titik tertinggi tempat beristirahat (foto diambil dari dalam gubuk tempat istirahat) di track sepeda gunung

Setelah melepas lelah dan minum, kami juga mengikuti Mas Yono dan kawan-kawan ke lokasi penanaman pohon. Bibit pohon yang kami bawa langsung kami tanam sendiri.

Penanaman Pohon

Mari kita turun menuju lokasi penanaman pohon

Penanaman Pohon

Trekking melalui jalan setapak, menuju lokasi penanaman pohon

Pulang ke kampung Cibulao lewat jalur berbeda, matahari sudah diatas kepala. Letih dan lesu terbayar pula dengan lagi-lagi sajian makan yang nikmat..

Setelah itu, kami pamit, dengan terlebih dahulu memberikan sembako berupa mie, beras dan telur untuk istri Mas Yono (oh ya beliau orang jawa yang lahir di Cibulao jadi tetap kami panggil mas hehe).

Pulangnya, ada agenda lain loh. Melihat Villa. Tapi bukan sembrang villa. Biasanya kan , kita ke puncak menginap di Villa. Nah, kalau kami, melihat Villa yang dibongkar. Karena tidak sesuai peruntukan tata ruang di daerah puncak. Tak berijin dan berpotensi membuat kelongsoran dan banjir di ibukota. Sudut pandang yang berbeda bukan hehe..

Villa Puncak Bogor

Villa Puncak

Salah satu villa yang sudah dibongkar. Tinggal kolam renangnya.

Villa di Puncak

Villa ini tinggal batu di pintu gerbang

Villa di Puncak

Yang ini tinggal gerbang yang megah. Villanya sudah tinggal puing

Villa Puncak

sebagian besar villa yang ini sudah ditanami penduduk dengan sayuran. Di ujung kanan masih terlihat puing villa.

Maju terus pemerintah Kabupaten Bogor, Kota Bogor dan Provinsi Jabar demi menjaga lingkungan dan menertibkan villa liar!

Sudah usai? Hmm belum. Sambil pulang, kami mampir dulu ke tempat Paralayang. Sekedar refreshing sebelum hujan tiba. Ya, langit sudah mendung.

Paralayang

Memandang kota bogor di bagian bawah dari tebing tempat titik penerbangan paralayang

Paralayang

Paralayang

Yuhuuu! Terbang tandem dengan profesional jadi ngga usah takut yah

Saya sendiri ngga ikutan paralayang. Lumayan mahal hehe.. saya cuma berpose narsis (lagi) aja

Paralayang

Inilah aktivitas yang bisa kita lakukan di Puncak. Seru kan satu hari satu malam di kampung?

Nah, bagaimana liburan teman-teman ke Puncak? Bosan dan jengah dengan keberadaan villa yang merusak kondisi alam? Mari, cari kontak ke perkampungan. Tinggal disana barang satu malam. Setelah itu, berjalan-jalan melihat lingkungan. Sensasinya beda loh. Kita juga bisa sekedar meringankan beban ekonomi dengan memberikan bantuan sembako seadanya untuk si empunya rumah. Mandi, makan dan ngobrol dengan orang-orang desa sungguh pengalaman yang sangat berharga.

Siap?

6918 Total Views 3 Views Today
Cara Lain Nikmati Kawasan Puncak Bogor, Tinggal Bersama Warga Desa
5 (100%) 1 vote
(Visited 2,076 times, 1 visits today)


About

managing editor-at-large ----- travel, tech, edu, lifestyle blogger at unggulcenter.org


'Cara Lain Nikmati Kawasan Puncak Bogor, Tinggal Bersama Warga Desa' have 1 comment

  1. 07/08/2015 @ 5:34 am Fathi

    boleh tau alamat lengkap desanya mas? atau cp yang bisa dihubungi untuk informasi penginapan tsb. thanks 🙂

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 Hellobogor.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool